Pekerjaan Fulltime Pertama
Salah satu fase menjadi dewasa menurut
ku adalah tentang mendapatkan pekerjaan juga tentang mandiri secara finansial.
Saat itu hal yang terpikirkan adalah mencoba melamar pekerjaan sebanyak mungkin
diberbagai perusahaan di area Jabodetabek. Memang, rasa idealis yang menjadi
tolak ukur memilih pekerjaan kala itu. Bahwa yang terbaik adalah bekerja
dibidang yang kita pahami, atau sesuai dengan latar belakang pendidikan.
Kenyataan nya, pengalaman yang dimiliki tidak cukup membuat kita memenuhi
ekspektasi perekrut. Mungkin bisa dibilang bahwa kemampuan yang dimiliki akan
terlihat sia-sia tanpa bisa dibuktikan dengan adanya pengalaman. Seharusnya
paling tidak skripsi yang kita ambil dulu harus relevan dengan pekerjaan yang
ingin kita lamar. Mungkin semua ini terjadi karena kurang strategi, kurang
persiapan, dan minim koneksi. Menjalin koneksi dengan banyak orang akan terasa
jauh lebih penting ketika kita berada dalam kondisi buntu karena tak kunjung
mendapatkan pekerjaan.
Setelah berbagai lamaran dengan berbagai
jenis pekerjaan tak satupun membuahkan hasil, akhirnya harus merelakan dan
berbesar hati menerima kegagalan. Mungkin memang sudah waktunya untuk tidak
berpegang pada usaha sendiri, dalam artian menerima dengan rendah hati uluran
bantuan orang. Sebenarnya tidak seutuhnya terkategori menerima bantuan ‘orang
dalam’, karena pada dasarnya orang yang menolong sudah tidak bekerja di tempat
tsb. Hanya sebatas memberikan informasi loker dari kenalan-kenalan nya
terdahulu semasa ia bekerja.
Pekerjaan yang ditawarkan kala itu
bergerak dibidang pelayanan Rumah sakit. Sangat jauh dari ekspektasi dan tak terpikirkan sama sekali akan menjalani profesi
tsb. Saat itu aku diarahkan untuk mengisi bagian Kelengkapan Pengisian Catatan
Medis di unit Rekam Medis. Saat itu bagian tersebut mengalami kekosongan karena
pegawai terdahulu diterima menjadi PNS. Singkat cerita, dengan berbagai
pertimbangan aku putuskan untuk menerima pekerjaan tersebut dengan jabatan
tenaga kerja kontrak. Sebelum aku terjun langsung menjalani profesi tsb, aku
sempat menjalani masa training 1 bulan tanpa kontrak dan tanpa upah, lucu
bukan. Setelah itu aku mulai menjalani kontrak untuk kurun waktu 2th. Pada
praktiknya aku harus menjalani berbagai pekerjaan dari mulai menjadi petugas
penerima pasien rawat inap maupun rawat jalan (admisi), serta bagian KLPCM.
Sebagai petugas admisi diberi jadwal 2 shift, yang pertama dari jam
08.00-15.00, yang kedua dari jam 15.00-08.00. Skema pekerjaannya seperti
dibawah ini :
Dalam sebulan mendapat jatah shift ke-2
(pkl 15-08.00) sebanyak 4-5 kali untuk mengisi bagian admisi rawat inap. Diluar
shift tersebut, maka mengerjakan shift ke-1 dengan uraian ; pkl. 07-12.00
mengisi bagian admisi rawat jalan, dan pkl. 13-15.00 mengisi bagian KLPCM untuk
kemudian setiap awal bulan harus membuat laporan KLPCM dalam bentuk grafik. Memerika catatan medis pasien rawat
inap bukan hanya 1 atau 2 buah, dalam 1 bulan setidaknya 300-500 catatan medis pasien
rawat inap harus dikerjakan. Padahal aku pikir akan lebih praktis jika hanya
mengambil data dalam bentuk sampling. Tapi, kenyataannya harus mengerjakan semua-muanya.
Dan bukan hanya itu, sesekali akan
menemui kejadian dimana kita sendiri yang harus mencari satu diantara ribuan
berkas catatan medis pasien di rak-rak
penyimpanan.
Perofesi admisi tak semudah kelihatannya, bukan sesimpel mengentry data identitas pasien. Banyak hal yang harus dijaga, utamanya ketika kita berbicara dengan pasien. Begitu banyak perangai manusia yang di luar ekspektasi kita. Banyak latar belakang pasien dengan berbagai macam jabatan profesi yang utamanya menjadi tolak ukur dalam berkomunikasi. Ada yang merasa dengan jabatan profesi yang dimiliki bisa bersikap tak acuh dalam proses pelayanan, berbagai macam kata-kata yang bernada tendensi seolah-olah mempertegas bahwa mereka spesial dan tak mau dibuat susah. Sebenarnya tak ada yang mempersulit, pelayanan sebagai mana mestinya, tapi untuk sebagian orang ketika diminta beberapa kelengkapan berkas tertentu malah merasa seolah-olah dipersulit. Salah satu contoh hal tersulit dalam pelayanan adalah ketika kita dihadapkan dengan salah satu pasien yang sudah lansia dan tanpa di dampingi keluarga pasien sama sekali. Sejelas apapun kita menjelaskan dan mengarahkan terkadang pasien akan sulit memahami, bahkan cenderung mudah marah. Jika sudah demikian maka jalan tengah nya kita akan menghubungi keluarga yang bersangkutan, atau kalau tidak memungkinkan akan terjadi sedikit keributan diantara pasien dan petugas pelayanan. Itulah mengapa setidaknya pasien yang berobat harus didampingi keluarga atau pun orang terdekat, atau jika tidak ada, setidaknya ada nomor kontak yang tersedia dan bisa dihubungi. Semua ingin terlayani dengan baik, maka dari itu harus ada kerja sama yang baik diantara pasien maupun petugas.
To be continued..
Comments
Post a Comment